Launching Kurikulum RESPECT Kitong Bisa & Program INISIASI

Dukung Sistem Pendidikan Nasional, Yayasan Kitong Bisa Luncurkan Kurikulum Respect untuk Menjangkau Secara Luas Peserta Didik Non-Formal di Papua khusus nya di Merauke

Pada hari Selasa (31/ 8) dari Kabupaten Merauke, Yayasan Kitong Bisa Indonesia resmi melucurkan kurikulum RESPECT dan Program Inisiasi. Respect merupakan Kurikulum pertama di Indonesia untuk pendidikan nonformal, dimana kurikulum ini mempunyai 3 komponen, yaitu : Knowledge (Pengetahuan), Skill (Keahlian), dan Behavior (Karakter). Ketiganya di desain sesuai dengan kebutuhan peserta didik dan konteks dimana KBLC berada.

Kitong Bisa merupakan salah satu yayasan pendidikan yang berfokus pada pendidikan non-formal khususnya untuk anak-anak di Tanah Papua dengan mendirikan pusat kegiatan belajar mengajar yang dinamakan Kitong Bisa Learning Center (KBLC). Saat ini Kitong Bisa juga bekerjasama dengan beberapa Pemerintah Daerah (PemDa) di Papua dan Papua Barat dalam mengelola PKBM dan kurikulum RESPECT di jadikan sebagai landasan dalam pelaksanaan proses belajar-mengajar, namun di sesuaikan dengan usia peserta didik, kebutuhan skill daerah, dan potensi SDA yang ada di daerah masing-masing.

RESPECT merupakan singkatan dari Responsibility, Empathy, Social, Powerful, Entrepreneurship, Culture, dan Trust dibuat untuk mencapai dari visi Yayasan Kitong Bisa, yaitu menjadi pelopor pusat pembelajaran non formal yang unggul, untuk melahirkan generasi Papua yang cerdas, inovatif dan berkarakter bagi Indonesia.

Kegiatan ini, secara langsung dihadiri oleh Wakil Bupati Merauke Bapak Riduan, Ibu Imelda Karolina Laode-Mbaraka (Istri Bupati Merauke), CEO Yayasan Kitong Bisa Billy Mambrasar, dan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Merauke Bapak Thiasony Betaubun. Melalui aplikasi, kegiatan ini juga dihadiri oleh Ibu Riska Rimayanti selaku Koordinator Fungsi Peserta Didik Direktorat PMPK Kemendikbudristek dan Bapak Wawan Kurnia Perwakilan dari PT. Bio Farma anak perusahaan BUMN yang merupakan mitra kerjasama Yayasan Kitong Bisa Indonesia.

Secara simbolis para tamu kehormatan yang datang secara langsung meresmikan acara ini dengan membunyikan Tifa, instrument musik khas Papua yang juga disaksikan secara virtual oleh tamu kehormatan lainnya.

Peluncuran kurikulum Respect direspon sangat baik dan didukung penuh oleh Bapak Wakil Bupati Merauke. Beliau menyampaikan bahwa penting untuk pendidikan di luar sekolah (non-formal) untuk diperhatikan yang dapat memperluas wawasan dan juga menambah keterampilan generasi muda, khususunya di tanah Papua, “Apresiasi untuk program kurikulum Respect dan program Inisiasi yang pertama kali di Indonesia ini. Semoga, yayasan maupun lembaga lain juga dapat mengikuti dalam membuat program-program seperti ini. Diharapkan dari program ini dapat menunjang para pemuda, khususnya generasi muda Papua dalam meningkatkan keahlian pada sektor pertanian, perikanan dan peternakan juga kemauan untuk berwirausaha sehingga nantinya dapat memanfaatkan lahan-lahan yang sudah ada untuk membangun tanah Papua,” Ujar Bapak Riduan menyampaikan pesan dalam sambutanya.

Apresiasi atas peluncuran kurikulum Respect Kitong Bisa juga diberikan oleh Ibu Riska Rimayanti selaku Koordinator Fungsi Peserta Didik Direktorat PMPK Kemendikbudristek, “Apresiasi dan dukungan dari pemerintah kepada kepada Kitong Bisa untuk kurikulum ini yang merupakan pertama di Indonesiadan semoga bisa diikuti oleh lembaga lainnya. Semoga bisa menciptakan insan-insan yang unggul dan berkompeten baik di tanah Papua secara Khusus dan Indonesia secara umum,” Ucap Ibu Riska dalam menyambut program ini.

Billy Mambrasar selaku CEO Yayasan Kitong Bisa Indonesia menyampaikan 5 arahan dari Presiden Republik Indonesia Bapak Joko Widodo yang tertuang dalam Inpres No. 9 Tahun 2020 salah satunya pembinaaan pusat-pusat belajar non-formal di seluruh Tanah Papua dengan total 405 titik, “ Dengan hadirnya Kitong Bisa sebagai salah satu dari titik tersebut diharapkan mendorong mereka untuk percaya diri, berpikir kritis, berani tampil mampu berbahasa Inggris untuk membuka jalan mereka ke banyak hal positif dan juga menumbuhkan rasa kewiarausahaan sedini mungkin. Yayasan Kitong Bisa juga menggandeng dan bermitra dengan Kemendikbudristek beberapa dirjen seperti Dirjen Vokasi dan Pendikan Luar Sekolah agar bisa menghasilkan dampak yang lebih luas”, Pesan Billy Mambrasar dalam kegiatan tersebut.

Dalam acara ini juga dilakukan kegiatan Launching Video GEMA (Generasi Emas) Bebas Covid kerjasama PT. Bio Farma dengan Yayasan Kitong Bisa. Tema Video yang di ambil adalah INISIASI (Informasi Sosialisasi Edukasi) yang memberikan gambaran tentang pentingnya menjaga 5M di era Pandemi, dikemas dalam bentuk yang ringan sehingga bisa dinikmati oleh semua masyarakat.

Bapak Wawan Kurnia menyampaikan bahwa PT. Biofarma mengapresiasi langkah Yayasan Kitong Bisa dalam memajukan tanah Papua, “Tujuan kami Biofarma bermitra dengan Kitong Bisa ialah untuk turut berpartisipasi dalam memajukan masyarakat lokal Papua dan kami sangat senang bisa menjadi mitra dalam hal tersebut”, Ucap Bapak Wawan Kurnia yang sekaligus menutup acara.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *