Kitong Bisa Learning Centre (KBLC) Arborek

Cahaya Rajaampat, Anak-Anak Arborek Tinju Dunia dengan Bahasa Inggris

Ada yang unik dengan anak-anak di Pulau Arborek, Rajaampat. Dengan berani mereka menyapa tamu dengan "good morning". Sambil senyum-senyum memperkenalkan dirinya menggunakan bahasa Inggris. Seolah-olah bersahabat dengan orang asing.

Ternyata kebiasaan itu telah ditanamkan oleh orang-orang yang peduli dengan pendidikan di Arborek. Salah satunya bernama Githa Anathasia. "Kalau di Arborek kami membiasakan mereka dari keluar rumah hingga bertemu siapapun harus mengucapkan salam dalam bahasa Inggris," kata wanita yang jadi CEO Kitong Bisa Rajaampat kepada National Geographic Indonesia di Arborek

Menanamkan bahasa Inggris dari nol pada anak-anak sekolah dasar di Arborek seperti meruntuhkan beton dengan kepalan tangan. Menurut Githa mereka tidah tahu cara pegang pulpen atau pensil, terutama kelas satu dan dua. Karena menghafal sudah jadi kebiasaan mereka ketimbang menulis. Sementara mengimbangi kurikulum bahasa Inggris di Papua Barat yang berlari kencang, anak-anak itu tidak sanggup karena terlalu berat.

"Jadi yang kami ajarkan adalah pengulangan materi. Misalnya tentang hari dan itu diulang-ulang sampai mereka paham dan tahu cara menulis tanpa melihat apa yang tertera di papan tulis. Sampai mereka juga bisa membedakan today, tomorrow, yesterday, the day after tomorrow. Setelah dasar itu mereka kuasai oke kita lanjut," ucap Githa.

Kegiatan belajar mengajar ini berlangsung pada hari Sabtu dan Minggu oleh para pengajar sukarela dari Kitong Bisa. Setiap kelas pun berbeda-beda teknik belajarnya. Untuk kelas satu dan dua diajarkan cara menulis, kelas tiga dan empat diajarkan tentang angka, dan murid kelas lima dan enam coba menyampaikan percakapan bahasa Inggris.

Untuk beberapa keperluan finansial saat ini masih ditopang oleh toko selam milik Githa bernama Arborek Dive Shop. Yayasan Kitong Bisa, memang sudah mengupayakan untuk memberikan upah pada para pengajar sukarelanya tapi jumlahnya belum besar. Kitong Bisa Rajaampat mempunyai program bernama "kelas mimpi" menampilkan tayangan dokumenter untuk memberikan motivasi pada anak-anak. Githa punya mimpi bahwa suatu saat nanti anak-anak dari Arborek bisa ke luar negeri. Apakah itu melanjutkan studi atau prestasi lainnya.

Kitong Bisa Rajaampat berdiri di Arborek sejak 2018. Tema pembelajarannya perihal kelautan, pariwisata, dan wawasan lingkungan. Bahasa Inggris jadi media mereka selama belajar.Tak hanya itu, bekal-bekal kehidupan juga diajarkan sebagai pembentukkan karakter. Sehingga saat menempuh jenjang pendidikan selanjutnya, anak-anak itu punya bekal yang mantap.

"Ketika dia keterima sekolah selanjutnya dia bisa jauh leih baik. Di Waisai, banyak sebutan bagi anak yang datang dari pulau, yakni anak "amber" (pendatang). Anak pulau dianggap tidak mampu. Kami mau hapus stigma itu. Jadi harus jadi tauladan untuk teman dan keluarganya. Saya senang jika anak itu bisa percaya diri yang tidak berlebihan. Mereka tinggal di pulau tapi belajar bahasa Inggris dan gratis. Maka ada yang bisa mereka banggakan ke orang lain," kata perempuan yang juga biasa dipanggil Mace Jawa. Githa mengalami minoritas ganda sebagai seorang yang aktif dalam kegiatan sosial di Rajaampat. Pertama ia adalah perempuan dan yang kedua dia bukan orang Papua asli. Walaupun ia menikahi orang Arborek tapi makian hingga ancaman menghujaninya, identitas adalah masalah besar yang dialami oleh Githa yang berasal dari Bekasi.

Terkekang pada masalah pribadi Githa semakin stres. Apalagi pandemi, membuatnya kehilangan tamu-tamu wisata yang jadi penopang utama keuangan keluarganya. "Sebelumnya saya bisa mengatasi stres karena banyak kegiatan. Tapi pandemi datang dan tak ada pemasukan. Kemudian berhadapan dengan masalah pribadi. Tapi saat-saat ini adalah waktu untuk memperbaiki diri sendiri. Berdoa pada Tuhan dan membaca firman-Nya. Lalu lari ke laut, menangis sekuat-kuatnya di laut," ucap Githa. Walau didera kepedihan dan ujian yang berat, ada saja yang menyenangkan hati Githa. Salah satunya anak tamatan Kitong Bisa yang sekarang sudah SMP di Pulau Doom, Kepulauan Sorong bernama Darius Mambrakuwatem.

"Ada satu anak namanya Darius di Doom. Walau jauh dia paling getol untuk inbox tanya saya. Siang tanta, malam tanta, tanta sakit kenapa? segala macam. Dia di sekolah, sama gurunya, kasih les bahasa Inggris. Dia juga sudah jadi junior open water scuba diver. Hal kecil itu bikin saya bangga," ucap Githa.

Darius mulai belajar bersama pengajar Kitong Bisa di Arborek sekitar kelas 4 SD. Sebagai anak yang tinggal di jantung pariwisata Rajaampat ia sadar potensi kedatangan turis yang besar ke kampung halamannya. "Karena kami tinggal di pesisir pantai dan banyak sekali turis, pastinya ngobrol dengan kami. Jadi kalau macam apa yang kita mengerti kita balas juga. Kalau kami tidak mengerti kami diam kami belajar lagi," kata Darius di Sorong.

Darius mengenang masa-masa berlajar bahasa Inggris di Arborek. Saat itu ia juga diajarkan untuk menjaga kebersihan pantai tiap hari Jum'at saat gotong royong bersih-bersih halaman kampung. Ia merasa bekal yang telah didaapatkannya membuat dirinya mampu beradaptasi dan bertahan di sekolah lanjutan.

"Saya sudah mengerti dasar sedikit, saya sudah mengerti guru jelaskan saya menerjemahkan. Saya ganti ke Bahasa Indonesia. Guru bertanya tidak menggunakan Bahasa Indonesia, dia menjelaskan punya pergerakan mulut coba memahami apa yang dikatakan dan menerjemahkan. Setiap hari saya belajar saya tambah lagi untuk mengerti," kata Darius yang menjadi ketua OSIS di sekolahnya. Suatu saat, Darius berkeinginan untuk bisa menempuh studi S2 dan jadi tuan di kampungnya sendiri.

Kitong Bisa hadir di Rajaampat karena melihat keprihatinan pariwisata khususnya di Papua Barat. Billy Mambrasar, pendiri Yayasan Kitong Bisa sekaligus staff khusus milenial mengatakan bahwa banyak dari pengusaha pariwisata masih didominasi oleh orang luar. Sementara banyak sekali anak-anak Papua butuh pekerjaan.

"Kita melihat anak-anak Papua ingin jadi tour guide tapi tidak punya skill Bahasa Inggris dan mereka tidak bisa running dive shop karena tidak punya skill kewirausahaan," ucap Billy pada National Geographic Indonesia via telepon WhatsApp. Mulanya, Githa bersama suaminya Marsel Mambrasar mengikuti acara pelatihan local tour guide untuk anak Papua di sektor pariwisata di Fak Fak. Di sanalah tercetus Kitong Bisa cabang Rajaampat. "Jadi Githa dan Marsel mendaftar dari Rajaampat. Setelah ikut pelatihan mereka melihat, oh... ada Kitong Bisa yang menjadi inkubasi life skill untuk anak-anak Papua. Lalu mereka menawarkan untuk membuka cabang di Rajaampat. Karena Rajaampat butuh, terutama Arborek," kata Billy.

Kitong Bisa memiliki dasar pengajaran bernama RESPECT. Masing-masing memiliki arti dan turunannya. (R) responsibility, (E) entrepreneurial, (S) social, (P) power, (E) environtment, (C) culture, dan (T) trust. Billy berharap bahwa RESPECT menjadi bekal yang tepat bagi anak-anak Papua. Itu juga berasal dari pengalaman hidupnya dari orang tua Billy.

"Ada pengalaman saya, itu jadi modal saya kuliah, kerja, dan wirausaha. RESPECT ini yang diterapkan bapak saya sudah lama. Beliau adalah guru honor 40 tahun dan banyak anak Papua berhasil di berbagai sektor. RESPECT adalah formulasi dari apa yang ayah saya ajarkan ke anak murid," kata Billy. Billy menambahkan "Value Kitong Bisa bukanlah menciptakan karyawan. Tetapi sebagai pusat informal untuk kemampuan hidup."
Donate now